Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, Katakanlah (Muhammad),
‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku,
meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)
(Al-Kahfi:109).
Showing posts with label Ibnu Al-Baitar. Show all posts
Showing posts with label Ibnu Al-Baitar. Show all posts

Thursday, 3 April 2014

Islamic Scientist




Al-Khindi

One of famous Muslim scientists was Abu Yousuf Yaqub Ibn. Isaac al-Khindi.  Al Khindi born at Kufa around 800 AD. He is actually someone who has expertise in many fields covering philosophy, mathematics, medicine, astronomy, physics, member of the geography and music.

Al-Khawarizmi



Abu Abdullah Mohammad Ibn Musa al-Khwarizmi is the father of algebra. Date of birth and death are not known precisely, but he was said to live in between the years 790 to 840 AD. There are also stating that he was born in 780 AD and died in 850 AD.



Abu al-Qasim Al-Zahrawi who lived between the years 936 to 1013 AD is another of its greatest Muslim scientists laid the foundations of many in the medical field.


Ibn Al-Baithar



Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi is one of the scientists Muslim Spain. He is a member of the famous botanist and pharmacist in the middle ages.

sumber dari: http://sciencek1.wordpress.com/others/motivation/

Khasiat Buah Anggur




Kandungan anggur dalam surah Abasa ayat 27-29 Allah SWT berfirman, 

"Lalu kami tumbuhkan biji-bijian, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma (di bumi itu)." 

Allah SWT menciptakan anggur di bumi, dengan memberikan begitu banyak manfaat bagi umat manusia.

Menerusi kajian secara ilmiah mengenai buah anggur, diyakini bahawa ia memiliki khasiat dari sudut perubatan. Anggur merupakan sejenis buah rendah lemak, dan disebut-sebut sebagai makanan fungsional yang banyak memberikan manfaat dari nutrisi yang dikandung kerana dapat mengurangi risiko kardiovaskular.

Sebagai salah satu buah-buahan yang paling menyihatkan, anggur mengandungi 70 kalori per setengah cawan dan merupakan sumber potassium, vitamin C dan pectin - sejenis serat yang dapat membantu mengurangi kolesterol darah. Ketika dikeringkan menjadi kismis, anggur memiliki konsentrasi gula dan zat besi yang lebih tinggi. Anggur juga mengandungi beberapa phytochemical termasuk  resveratrol yang terdapat dalam kulitnya. Dalam beberapa penelitian terhadap resveratrol yang terdapat dalam kulit semua jenis anggur, ianya baik untuk mengurangi risiko kanser payudara, kanser hati,  kanser usus dan penyakit jantung.

Setelah membaca artikel tersebut di dalam sebuah majalah ilmiah.. terfikir pula untuk membaca terjemahan Al-Quran yang menyentuh tentang firman Allah SWT mengenai buah anggur...Di antara sekian banyak buah-buahan itu, salah satu firman Allah SWT dalam Al-Quran adalah anggur. Buah yang rasanya lazat itu, disebutkan dalam Al-quran sebanyak 14 kali. Ini menunjukkan bahwa betapa banyaknya nikmat yang Allah berikan dan sediakan untuk hamba-hamba-Nya.






Telah disebutkan juga didalam Al-Quran anggur memiliki khasiat dan kegunaan yang luar biasa. Anggur yang kering disebut kismis dan kismis yang baik biasanya berukuran besar, berlemak, dan banyak mengandungi minyak, juga berkulit tipis dan bijinya sedikit. Menurut Hisham Tahlbah dalam karyanya bertajuk Ensiklopedia Mukzijat Alquran dan Hadis, kismis yang seperti itu kaya kandungan gizi. Jika dimakan bijinya akan memberi manfaat yang banyak untuk pencernaan, hati dan limfa. Tahlbah menambahkan, kismis juga dapat mempersubur hati, selain juga bermanfaat untuk menghilangkan rasa sakit di tenggorok, dada, paru-paru dan ginjal. 
 
Dengan (air hujan) itu, Dia menumbuhkan bagi kamu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. 


(Surah An Nahl: 11) Aneka ragam buah-buahan segar diciptakan Sang Khalik untuk umat manusia. Menurut Thlbah, anggur sudah dikenal sejak masa Nabi Nuh AS.  





Kesimpulannya, anggur adalah salah satu buah yang paling banyak manfaatnya, tutur Tahlbah. Buah anggur ini, sangat baik untuk dimakan, baik ketika masih segar ataupun sudah kering. Anggur merupakan buah yang mudah dicerna. Anggur hijau maupun merah memiliki khasiat yang sama, keduanya bisa dimanfaatkan untuk menjadi buah, makanan, minuman, maupun sebagai penawar. 


Hal senada juga dituturkan oleh Ibnu Qayyim. Menurutnya, anggur adalah salah satu buah-buahan yang memiliki banyak manfaat. Anggur adalah salah satu buah dari sekian banyak buah, salah satu makanan bergizi dari sekian banyak makanan bergizi, salah satu ubat dari sekian banyak ubat, atau salah satu minuman dari sekian banyak minuman, ungkap Ibnu Qayyim. Sebagai ubat, anggur memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Tahlbah mengungkapkan, anggur diyakini boleh mengubati batuk, memurnikan darah, membersihkan usus, pencernaan. 

Thalbah menjelaskan dalam buku-buku pengubatan pernafasan, anggur juga memiliki manfaat sebagai ubat untuk pengubatan pernafasan. Untuk pengubatan tersebut, anggur diolah menjadi minuman yang berupa jus anggur. Perahan air anggur juga berkhasiat menurunkan panas tubuh, menghentikan batuk, dan membuat perut merasa nyaman, menurut kata Tahlbah. Jus anggur, menurutnya, boleh membantu penyembuhan dari penyakit hemaroid (buasir), gangguan pencernaan, batu ginjal dan gangguan hempedu. Untuk itu, para peneliti menganjurkan untuk meminum segelas jus anggur, sebelum sarapan dan sebelum makan malam. 

Bahkan meminum segelas anggur sebelum tidur juga bisa membantu anda untuk tidur nyenyak tanpa insomnia yang mengganggu. Jus anggur juga baik untuk orang-orang yang keracunan, keletihan atau dalam masa penyembuhan atau terkena batu ginjal (kencing batu). 

Menurut para peneliti, jus anggur harus segera diminum setelah pembuatannya, karena jika didiamkan terlalu lama akan berubah menjadi arak yang memabukkan. Dari buah kurma dan anggur, kamu membuat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.





Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti, 

(Surah Al-Nahl ayat 67). Menurutnya Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi atau akrab disapa Ibnu al-Baitar anggur adalah buah yang paling diminati. Ia juga tergolong paling baik dibandingkan buah-buahan lainnya, karena mengandung banyak lemak. Ia dapat menggemukan orang yang kurus, membersihkan darah, dan memperlancar saluran pencernaan. Anggur juga bermanfaat untuk memulihkan orang yang sakit, dan menguatkan jantung, jelas Ibnu Baithar, ahli botani Muslim terkemuka di era kejayaan Islam di Andalusia. Anggur muda atau anggur yang masih segar, lanjut Tahlbah, memiliki manfaat dapat memampatkan darah yang terus menerus mengalir keluar (pendarahan), menguatkan dan memperlancar saluran pencernaan, serta mengatasi masalah usus besar.

Dari beberapa penelitian diperolehi kesimpulannya bahwa anggur adalah buah yang memiliki banyak manfaat. Anggur sangat efektif dalam membangun, memperbaiki, dan memperkuat sel-sel tubuh.



sumber dari: http://htaiping.moh.gov.my/

Tuesday, 18 March 2014

Materia Medica and Foodstuffs






The frontispage of a printing in 1875 at the famous Bulaq press in Cairo of The Comprehensive Book on Materia Medica and Foodstuffs (Kitab al-Jami` li-mufradat al-adwiyah wa-al-aghdhiyah) by Ibn al-Baytar (d. 1248/646 H).



sumber dari: http://www.warwithoutend.co.uk/middle-east-and-asia

Wednesday, 25 December 2013

penyakit-penyakit peredaran darah




Obat Untuk Melancarkan Peredaran Darah

Gerard da Cremona, orang Italia yang tinggal di Spanyol, menerjemahkan 92 buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin. Buku terjemahannya itu antara lain Al-Asrar (rahasia-rahasia) karya Abu Bakr Muhammad ibnu Zakaria Ar-Razi (bhs.Ltn.Razes, Rases, atau Rhazes), sebuah karya dokter Abu Az-Zahrawi tentang metoda pembedahan, buku karya Abu Muhammad Dhiyauddin Al-Baithar (bhs.Ltn.Alpetagrius) mengenai tumbuh-tumbuhan.


Giovanni Morgagni (1682-1771), orang Itali yang dihormati sebagai bapak pathology (ilmu penyakit) karena dikatakan sebagai orang pertama yang dengan benar menguraikan sifat alami penyakit. Namun jauh sebelum Giovanni melakukannya, para ahli bedah Islam adalah ahli patologi pertama sesungguhnya. Mereka menyadari secara penuh sifat alami penyakit dan menggambarkan berbagai macam penyakit dengan detil modern. Ibnu Zuhr dengan benar menggambarkan sifat alami radang selaput dada (pleurisy), tuberkulosis (TBC) dan radang kantung jantung (pericardistis). Az-Zahrawi dengan teliti mendokumentasikan ilmu penyakit dari hydrocephalus (air di otak) dan penyakit-penyakit sejak lahir lainnya. Ibnu Al-Quff dan Ibnu An-Nafs memberi uraian-uraian sempurna tentang penyakit-penyakit peredaran darah. Ahli-ahli bedah Islam lainnya memberi uraian-uraian akurat pertama tentang penyakit berbahaya tertentu, termasuk kanker perut, usus dan kerongkongan. Para ahli bedah Islam ini adalah pemula dari pathology (ilmu penyakit), bukan Giovanni Morgagni.



sumber dari: jogang.heck.in

Thursday, 12 December 2013

Kemilau Ilmu Pengetahuan dari Andalusia






Filsafat

Pemikiran yang dihasilkan melalui bidang ilmu filsafat di era Dinasti Umayyah Spanyol menjadikan wilayah ini sebagai pusat pemikiran yang paling banyak didatangi berbagai pencinta ilmu setelah Baghdad. Salah satu aliran filsafat yang masyhur datang dari Ibnu Rushd (1126-1198) atau Averroes. Namanya dikenal terutama di kalangan Barat berkat pengembangannya dalam aliran filsafat sekuler. Ia bahkan dipandang dinilai sebagai bapak filsafat sekuler Eropa. Pemikirannya terutama memberikan pengaruh yang sangat besar di Eropa Barat. Konsep eksistensi mendahului esensi datang dari nama yang satu ini. Nama lainnya yang juga identik dengan filsafat dari Andalusia adalah Ibnu Tufail.

Ilmu bumi

Dari sekian penemuan yang dihasilkan pada masa Dinasti Umayyah Spanyol, apa yang dihasilkan Abu Abdullah Muhammad Ibnu Ma'fudh pada abad ke-11 M di bidang ilmu bumi menjadi bukti perkembangan ilmu bumi masa itu. Penemuan optik Ibu Ma'fudh ini bahkan didokumentasikan dalam bentuk buku yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam berbagai berbagai bahasa seperti bahasa Latin dengan judul Liber de Crepisculis. Selanjutnya pakar biologi Andalusia, Abu al- Abbas al-Nabati mulai mengembangkan metode ilmiah botani pada awal abad ke-13 M.

Kerja kerasnya ini dikembangkan muridnya Ibnu al-Baitar hingga pemahaman mengenai ilmu botani pun menjadi lebih luas. Ia bahkan menuangkan pencapaiannya melalui kitab al- Jami fi al-Adwiya al-Mufrada yang diyakini sebagai salah satu kompilasi botani terbesar dalam sejarah. Ensiklopedi botani karya Al-baitar ini memuat 1.400 jenis tanaman dan 300 di antaranya merupakan temuannya sendiri. Pemikirannya lebih jauh sangat berpengaruh di Eropa.

Astronomi

Bidang astronomi mencapai puncak kejayaannya di era Kekhalifahan Umayyah Spanyol pada abad ke-11 dan 12 M. Adalah Ibnu Haitham seorang astronom asal Andalusia yang untuk pertama kalinya mengubah konfigurasi Ptolemeus. Astronom Andalusia lainnya Al-Zarqali alias Arzachel pada akhir abad ke-11 M bahkan menemukan bahwa orbit planet lebih merupakan edaran eliptik bukan edaran sirkular.

Nama Ibnu Rushd juga tercatat sebagai salah seorang ilmuwan yang turut menentang paham astronomi yang dikembangkan Ptolemeus. Penemuan astronomi penting lainnya tercatat atas nama Ibnu Bajjah yang mengusulkan konfigurasi Galaksi Bima Sakti. Ada pula Nur Ed-Din Al Betrugi alias Alpetragius yang mengusulkan model-model planet baru.

Teknologi

Masa kejayaan Islam di Spanyol turut ditandai dengan munculnya beragam teknologi. Hal ini sangat memungkinkan dengan dukungan pesatnya industri dan ilmu pengetahuan kala itu. Di antara hasil pengembangan teknologi yang digunakan yaitu teknologi kincir air dan angin di sejumlah pabrik kertas, pabrik baja, dan pabrik-pabrik pangan. Ada jugateknologi bendungan serta pengatur air untuk irigasi yang dikenal pada masa peradaban muslim Spanyol.

Pada masa yang sama pula Abbas Ibnu Firnas muncul sebagai penemu teknologi yang selanjutnya menjadi cikal-bakal pesawat terbang dan parasut. Teknologi di bidang kedirgantaraan di Andalusia ini menjadi yang pertama di dunia. Ibu Firnas juga yang menjadi inspirator kemungkinan umat manusia mampu menjelajahi angkasa.



sumber dari: klik-galamedia.com

Saturday, 7 December 2013

kegunaan medis menarik tentang ganja






Berikut ini adalah daftar beberapa ahli pengobatan yang tercatat dalam literatur pernah menyebutkan mengenai khasiat obat dari ganja :
  • Ibn Masawayh (857 M) & Ishaq b. Sulayman (abad ke-10) – Minyak biji ganja untuk menyembuhkan sakit di telinga.
  • Ibn al-Baytar (1291) – Minyak biji ganja untuk menyembuhkan gas (‘rih’) pada telinga.
  • Al-Antaki (abad ke-16) – minyak biji ganja dapat membunuh cacing dalam telinga & mengeluarkan benda-benda asing dan kotoran.
  • Al-Dima (abad ke-9) – Ganja untuk obat cacing perut.
  • Al-Firuzabadi (abad ke-14 – 15) – Obat cacing kremi / habb al-qar’.
  • Sabur ibn Sahl (abad ke-9) – Menghilangkan rasa sakit kronis, sakit kepala, migrain, mencegah keguguran, gagal melahirkan, mengurangi sakit pada rahim, & menjaga bayi tetap pada abdomen ibunya (kitab “Al-Aqrabadhin Al-Saghir”).
  • Ibn Wafid al-Lajmi (abad ke-11) – Biji ganja untuk menambah produksi air susu ibu & menyembuhkan sakit amenorrhea.
  • Avicenna/Ibnu Sinna (abad ke-10) – daun dan biji ganja u/ mengobati & mengeluarkan gas dari perut.
  • Al-Biruni (abad ke-12) – Menyembuhkan rasa sakit kronis
  • Al-Masi (1877) – Daun ganja untuk mengeluarkan gas dari rahim, usus & lambung.
  • Al-Mayusi (1877) – Daun ganja untuk menghilangkan dahak dari perut.
  • Ibn Habal (1362) – Biji ganja untuk mengeluarkan cairan empedu dan dahak.
  • Ibn al-Baytar (1291) – Ganja untuk melancarkan buang air kecil.
  • Ishaq b. Sulayman (1986) – Ganja bisa menghangatkan badan.
  • Jabir ibn Hayyan (abad ke-8) – Ganja memiliki sifat psikoaktif (kitab al-Sumum).
  • Umar Ibn Yusuf ibn Rasul (abad ke-13) – Ganja sebagai obat sakit kepala.
  • Ibn al-Baytar (1291 AH) – Minyak biji ganja untuk mengurangi sakit syaraf.
  • Al-Qazwini (1849) – Jus ganja untuk mengurangi rasa sakit pada peradangan bola mata.
  • Tibbnama (1712) – Tumbukan batang dan daun ganja untuk mengobati wasir.
  • Al-Masi (abad ke-10) – Ganja untuk pengobatan epilepsi.
  • Al-Badri (1464) – Ganja untuk mengobati epilepsi.
  • Abu Mansur ibn Muwaffak (abad ke-10) – Ganja untuk mengobati sakit kepala (Kitab al-abniya ‘an haqa’iq al-adwiya).
  • Avicenna (1294) – Jus dari daun ganja untuk obat panu di kulit.
  • Al-Razi – Jus daun ganja untuk merangsang pertumbuhan rambut.
  • Ibn Buklari (abad ke-11) – Jus daun ganja untuk menyembuhkan abses (tumor) di kepala.
  • Muhammad Riza Shirwani (abad ke-17) – Minyak biji ganja untuk mengobati tumor pada rahim.


sumber dari: hsungkowo.tumblr.com

Saturday, 16 November 2013

Rare manuscript copy of book of simple drugs




image alt text

Rare manuscript copy of book of simple drugs attributed to Ibn al-Baytar, held in The Royal Library, Copenhagen Cod. Arab. 114 folio 2b. In fact the manuscript is a copy of Kitâb Taqwîm al-Adwiyah fî mâ-shtahara min-al- a'shâb wa-l-aqâqîr wa-l-aghdhiyah (Book for determining medicaments of those herbs, medical plants and nourishments which are publicly known) by Ibrâhîm ibn Abî Sa'îd al-Maghribî al-'Alâ'î, who wrote it in the middle of the 12th century.



sumber dari: muslimheritage.com

Jâmi mufradat al-adwiya wa-'l-aghdiya





Two sample pages from Ibn al-Baytar's treatise Jâmi mufradat al-adwiya wa-'l-aghdiya. 
Suleymaniye Library, Ayasofya, MS 3748. Read: Nil Sari, Food as Medicine in Muslim Civilization.



sumber dari: muslimheritage.com

Wednesday, 13 November 2013

use of drugs in the treatment




Anti-Retroviral AIDS Drugs


What is Taught: The discovery of the scientific use of drugs in the treatment of specific diseases was made by Paracelsus, the Swiss-born physician, during the 16th century. He is also credited with being the first to use practical experience as a determining factor in the treatment of patients rather than relying exclusively on the works of the ancients.


What Should be Taught: Ar-Razi, Ibn Sina, al-Kindi, Ibn Rushd, az -Zahrawi, Ibn Zuhr, Ibn Baytar, Ibn al- Jazzar, Ibn Juljul, Ibn al-Quff, Ibn an-Nafs, al-Biruni, Ibn Sahl and hundreds of other Muslim physicians mastered the science of drug therapy for the treatment of specific symptoms and diseases. In fact, this concept was entirely their invention. The word ‘drug' is derived from Arabic. Their use of practical experience and careful observation was extensive. Muslim physicians were the first to criticize ancient medical theories and practices. Ar-Razi devoted an entire book as a critique of Galen's anatomy. The works of Paracelsus are insignificant compared to the vast volumes of medical writings and original findings accomplished by the medical giants of Islam.



sumber dari: islamicbulletin.org

Sunday, 10 November 2013

About Nutmeg Oil




spicely organic spices


Nutmeg is the actual seed of the tree, roughly egg-shaped and about 1 inch long. The first harvest of nutmeg trees takes place 7–9 years after planting, and the trees reach full production after 20 years. Nutmeg is usually used in powdered form. Nutmeg is the only tropical fruit that is the source of two different spices.
Essential oils are commonly defined by the fact that they convey characteristic fragrances. Essential oils are generally extracted by distillation. They are used in perfumes, cosmetics, soaps and other products, for flavoring food and drink, and for adding scents to incense and household cleaning products. Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine that claims that essential oils and other aromatic compounds have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer, heated over a candle flame, or burned as incense.


The techniques and methods used to produce essential oils was first mentioned by Ibn al-Baitar (1188–1248), an Andalusian physician, pharmacist and chemist.



sumber dari: nutmegoil.org

Makanan Sebagai Obat








''Setiap penyakit ada obatnya,'' begitu bunyi salah satu hadis Rasulullah SAW. Para dokter dan  ilmuwan Muslim di era keemasan telah berupaya mencari dan menemukan beragam bentuk pengobatan. Yang menarik, dokter-dokter Muslim di zaman kejayaan peradaban Islam mampu menjadikan makanan sebagai obat.

Menurut Prof Nil Sari dalam tulisannya bertajuk Food as Medicine in Islamic Civilization, dokter Muslim seperti Ibnu Sina (980-1037 M) dan Ibnu al-Baitar telah berhasil menjadikan makanan sebagai obat. Avicena – begitu masyarakat Barat biasa menyubutnya --  pada abad ke-11 M sudah menulis manuskrip tentang diet dan makanan sebagai obat.

Sang dokter memasukan resep makanan yang berkhasiat sebagai obat itu  dalam ilmu kedpkteran. "Dalam salah satu risalahnya, Ibnu isna menetapkan enam aturan hidup sehat, salh satunya menyatakan bahwa makanan berfungsi obat , melalui diet seimbang," ungkap Prof Nil Sari,  keepala Departemen Sejarah dan Etika Pengobatan dari Universitas Istanbul, Turki.

Para dokter Muslim di era keemasan telah menerapkan diet kepada para pasiennya. Makanan telah menjadi bagian terpenting dalam pengobatan, bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. "Mengatur pola makan merupakan hal yang sangat penting dalam ilmu  pengobatan,"  papar Prof Nil Sari.

Ilmuwan dan dokter Muslim al-Razi juga menekankan pentingnya penyembuhan penyakit melalui pola makan.  "Jika kamu dapat menyembuhkan seseorang dengan diet (mengatur pola makan), maka jangan menyarankan pengobatan," ujar Prof Nil Sari mengutip pernyataan al-Razi.



sumber dari: republika.co.id

ramuan herbal untuk meng obati kanker




An essential oil is a concentrated hydrophobic liquid containing volatile aroma compounds from plants. Essential oils are also known as volatile oils, ethereal oils or aetherolea, or simply as the "oil of" the plant from which they were extracted, such as oil of clove. An oil is "essential" in the sense that it carries a distinctive scent, or essence, of the plant. Essential oils do not form a distinctive category for any medical, pharmacological, or culinary purpose.
Essential oils are generally extracted by distillation. Steam distillation is often used. Other processes include expressionor solvent extraction. They are used in perfumes, cosmetics, soaps and other products, for flavoring food and drink, and for adding scents to incense and household cleaning products.
Various essential oils have been used medicinally at different periods in history. Medical applications proposed by those who sell medicinal oils range from skin treatments to remedies for cancer, and often are based solely on historical accounts of use of essential oils for these purposes. Claims for the efficacy of medical treatments and treatment of cancers in particular, are now subject to regulation in most countries.
Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine that claims that essential oils and other aromatic compounds have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer, heated over a candle flame, or burned as incense.
The techniques and methods first used to produce essential oils were first mentioned by Ibn al-Baitar (1188–1248), anAndalusian physician, pharmacist and chemist.
- See more at: http://www.greeningair.com/airgreening/#sthash.drcQxtd5.dpuf
An essential oil is a concentrated hydrophobic liquid containing volatile aroma compounds from plants. Essential oils are also known as volatile oils, ethereal oils or aetherolea, or simply as the "oil of" the plant from which they were extracted, such as oil of clove. An oil is "essential" in the sense that it carries a distinctive scent, or essence, of the plant. Essential oils do not form a distinctive category for any medical, pharmacological, or culinary purpose.
Essential oils are generally extracted by distillation. Steam distillation is often used. Other processes include expressionor solvent extraction. They are used in perfumes, cosmetics, soaps and other products, for flavoring food and drink, and for adding scents to incense and household cleaning products.
Various essential oils have been used medicinally at different periods in history. Medical applications proposed by those who sell medicinal oils range from skin treatments to remedies for cancer, and often are based solely on historical accounts of use of essential oils for these purposes. Claims for the efficacy of medical treatments and treatment of cancers in particular, are now subject to regulation in most countries.
Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine that claims that essential oils and other aromatic compounds have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer, heated over a candle flame, or burned as incense.
The techniques and methods first used to produce essential oils were first mentioned by Ibn al-Baitar (1188–1248), anAndalusian physician, pharmacist and chemist.
- See more at: http://www.greeningair.com/airgreening/#sthash.drcQxtd5.dpuf
An essential oil is a concentrated hydrophobic liquid containing volatile aroma compounds from plants. Essential oils are also known as volatile oils, ethereal oils or aetherolea, or simply as the "oil of" the plant from which they were extracted, such as oil of clove. An oil is "essential" in the sense that it carries a distinctive scent, or essence, of the plant. Essential oils do not form a distinctive category for any medical, pharmacological, or culinary purpose.
Essential oils are generally extracted by distillation. Steam distillation is often used. Other processes include expressionor solvent extraction. They are used in perfumes, cosmetics, soaps and other products, for flavoring food and drink, and for adding scents to incense and household cleaning products.
Various essential oils have been used medicinally at different periods in history. Medical applications proposed by those who sell medicinal oils range from skin treatments to remedies for cancer, and often are based solely on historical accounts of use of essential oils for these purposes. Claims for the efficacy of medical treatments and treatment of cancers in particular, are now subject to regulation in most countries.
Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine that claims that essential oils and other aromatic compounds have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer, heated over a candle flame, or burned as incense.
The techniques and methods first used to produce essential oils were first mentioned by Ibn al-Baitar (1188–1248), anAndalusian physician, pharmacist and chemist.
- See more at: http://www.greeningair.com/airgreening/#sthash.drcQxtd5.dpuf
Semua orang ingin sehat. Penyakit sebisa mungkin dihindari, apalagi kanker. Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti umat manusia. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan pada 2030, akan ada 75 juta orang yang terkena kanker di seluruh dunia.
 
Kanker bukanlah penyakit baru. Di era kejayaan peradaban Islam, para dokter Muslim telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter Muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Baitar pun telah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan itu.
 
Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic. 
 
Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.
 
Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.
 

Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Prof Nil Sari menyimpulkan bahwa, Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan. Tapi domain yang paling spektakuler adalah kekuatannya yang dapat menyembuhkan tumor.





sumber dari: jurnalhajiumroh.com

Kontribusi Ibnu Al-Baitar





http://blognyadokterarif.files.wordpress.com/2013/06/albucasis-summagallicana_it.jpg


Ibnu Al-Baitar adalah salah satu ilmuwan Islam terbaik yang pernah ada. Beliau dikenal sebagai ahli botani dan farmasi (obat-obatan). Ibnu Al-Baitar lahir pada akhir abad ke-12 di Malaga, Spanyol dan wafat di Damaskus pada tahun 1248 M. Lahir dengan nama Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, beliau mendapatkan ilmu tentang botani dari guru beliau Abu al-Abbas al-Nabati, seorang ahli botani yang terkenal pada saat itu.

Kontribusi Ibnu al-Baitar untuk dunia Kedokteran :

  1. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan berbagai jenis tanaman termasuk di dalamnya tanaman obat.
  2. Kitab Al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada yang beliau tulis menjadi kitab yang terpopuler saat itu. Berisikan 1400 item tanaman yang sebagian besarnya adalah tanaman yang digunakan pada metode pengobatan Arab.
  3. Kitab Al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufrada, merupakan ensiklopedia tanaman obat khususnya di wilayah Arab Saudi.
  4. Kitab lainnya : Al-Mughni fil Adwiyyatil Mufradah wal Ughdziyyah (Ensiklopedi Pengobatan Mandiri dan Makanan) dan Al-Jami’ fil Adwiyyatil Mufradah wal Ughdziyyah (Kumpulan Pengobatan Mandiri dan Makanan).  


sumber dari: blognyadokterarif.wordpress.com

Ginger Oil




spicely organic spices


Young ginger rhizomes are juicy and fleshy with a very mild taste. They are often pickled as a snack or just cooked as an ingredient in many dishes. They can also be steeped in boiling water to make ginger tea, to which honey is often added. Sliced orange or lemon fruit may also be added. Ginger can also be made into candy. Mature ginger roots are fibrous and nearly dry. The juice from old ginger roots is potent and is often used as a spice in Indian and Asian dishes.

The medical form of ginger historically was called Jamaica ginger; it was classified as a stimulant used to aid digestion. In the West, powdered dried ginger root is made into capsules and sold in pharmacies for medicinal use.

Essential oils are commonly defined by the fact that they convey characteristic fragrances. Essential oils are generally extracted by distillation. They are used in perfumes, cosmetics, soaps and other products, for flavoring food and drink, and for adding scents to incense and household cleaning products. Interest in essential oils has revived in recent decades with the popularity of aromatherapy, a branch of alternative medicine that claims that essential oils and other aromatic compounds have curative effects. Oils are volatilized or diluted in a carrier oil and used in massage, diffused in the air by a nebulizer, heated over a candle flame, or burned as incense.


The techniques and methods used to produce essential oils was first mentioned by Ibn al-Baitar (1188–1248), an Andalusian physician, pharmacist and chemist.



sumber dari: gingeroil.net

Ibn Al Baitar's Statue




benalmadena-ibn-al-baytar

Benalmadena’s favourite son was an Islamic era scientist and botanist, Ibn al Baitar, 
whose statue can be seen on the boardwalk nect to Bil Bil castle.



sumber dari: rondatoday.com

Ibn Al-Baitar’s major contribution




"Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada"
Ibn al-Baitar’s major contribution is "Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada" ( _ar. كتاب الجمع في الأدوية المفردة), which is considered one of the greatest botanical compilations in history, and was a botanical authority for centuries. It was also a pharmaceutical encyclopedia and contains details on at least listing 1,400 plants, foods, and drugs, 300 of which were his own original discoveries. His work was translated into Latin in 1758 and was being used in Europe up until the early 19th century. [Diane Boulanger (2002), "The Islamic Contribution to Science, Mathematics and Technology", "OISE Papers", in "STSE Education", Vol. 3.] The book also contains references to 150 other previous Arabic authors as well as 20 previous Greek authors.Russell McNeil, [http://www.mala.bc.ca/~mcneil/baitart.htm Ibn al-Baitar] , Malaspina University-College.]

"Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada"
Ibn Al-Baitar’s second major work is "Kitab al-Mlughni fi al-Adwiya al-Mufrada" which is an encyclopedia of Islamic medicine, which incorporates his knowledge of plants extensively for the treatment of various ailments, including diseases related to the head, ear, eye, etc.


sumber dari: en.academic.ru

the greatest botanist and pharmacist





Ibn al-Baitar - Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, one of the greatest scientists of Muslim Spain, greatest pharmacist of the Middle Ages.


Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi was one of the greatest scientists of Muslim Spain and was the greatest botanist and pharmacist of the Middle Ages.

He was born in the Spanish city of Malaqa (Malaga) towards the end of the 12th century. He learned botany from Abu al-Abbas al-Nabati, a learned botanist, with whom he started collecting plants in and around Spain. In 1219 he left Spain on a plant-collecting expedition and travelled along the northern coast of Africa as far as Asia Minor. The exact modes of his travel (whether by land or sea) are not known, but the major stations he visited include Bugia, Qastantunia (Constantinople), Tunis, Tripoli, Barqa and Adalia. After 1224 he entered the service of al-Kamil, the Egyptian Governor, and was appointed chief herbalist. In 1227 al-Kamil extended his domination to Damascus, and Ibn al-Baitar accompanied him there which provided him an opportunity to collect plants in Syria His researches on plants extended over a vast area:including Arabia and Palestine, which he either visited or managed to collect plants from stations located there.

He died in Damascus in 1248.


sumber dari: webgaza.net

Cancer Therapy





Ibn al-Baytar


Born in the Andalusian city of Málaga at the end of the 12th century, he learned botany from the Málagan botanist Abu al-Abbas al-Nabati with whom he started collecting plants in and around Spain. Al-Nabati was responsible for developing an early scientific method, introducing empirical and experimental techniques in the testing, description and identification of numerous materia medica, and separating unverified reports from those supported by actual tests and observations. Such an approach was thus adopted by Ibn al-Baitar.[1] In 1219, Ibn al-Baitar left Málaga to travel in the Islamic world to collect plants. He travelled from the northern coast of Africa as far as Anatolia. The major stations he visited include Bugia, Constantinople, Tunis, Tripoli, Barqa and Adalia. After 1224, he entered the service of al-Kamil, an Ayyubid Sultan, and was appointed chief herbalist. In 1227 al-Kamil extended his domination to Damascus, and Ibn al-Baitar accompanied him there which provided him.

In cancer therapy, Ibn al-Baitar discovered the earliest known herbal treatment for cancer: "Hindiba", a herbal drug which he identified as having "anticancer" properties and which could also treat other.

After recognizing its usefulness in treating neoplastic disorders, Hindiba was patented in 1997 by Nil Sari, Hanzade Dogan, and John K. Snyder.



sumber dari: inventors.findthedata.org

Monday, 28 October 2013

eksperimen berkawal dan pemerhatian




Facebook Experiment


Pada abad ke-10, Razi (Rhazes) memperkenalkan eksperimen berkawal dan pemerhatian klinik ke dalam bidang ubat, dan menolak pelbagai teori-teori Galen yang belum diverified oleh eksperimentasi.[38] Eksperimen terawal perubatan dijalankan oleh Razi supaya dapat mencari tempat yang terbersih untuk membina sebuah hospital. Dia menggantung berketulan daging di tempat-tempat sepanjang Baghdad abad ke-10 dan memerhatikan di mana daging mereput secara kurang cepat, dan di mana dia membina hospital. Dalam Buku Ubat Komprehensifnya, Razi merakam kes-kes klinik pada pengalaman dan memberikan rakaman yang sangat berguna pada pelbagai penyakit. Dalam Was-was pada Galennya, Razi juga adalah orang yang pertama untuk membukti bahawa teori Galen pada humorisme dan teori Aristotle pada elemen klasikal salah dengan menggunakan eksperimentasi.[40] Dia juga memperkenalkan urinalysis dan stool tests.[41]

Avicenna (Ibn Sina) dianggapkan bapa perubatan moden,[24] dengan pengenalan eksperimentasi teratur dan kuantifikasi ke dalam kajian fisiologi,[25] pengenalan ubat bereksperimen,[26] percubaan klinik,[27] analisis fakta risko, dan gagasan suatu sindrom dalam diagnosis pada penyakit yang terutama,[33] dalam ensiklopedia perubatannya, Kanun Perubatan (c. 1025), yang juga adalah buku pertama yang menguruskan dengan ubat berasas-bukti, pembicaraan kawalan random,[28][29] dan ujian-ujian efficacy.[30][31]

Menurut Toby Huff dan A. C. Crombie, Kanonnya mengandungi "suatu peraturan yang memuatkan keadaaan untuk kegunaan eksperimen dan uji ubat" yang adalah "suatu panduan tepat untuk eksperimentasi praktikal" dalam proses "penemuan dan membuktikan kekesanan bahan ubat."[38] Emfasis Avicenna pada perubatan kajian memberikan foundations untuk suatu pencapaian bereksperimen pada farmakologi.[42] Qanun meletakkan peraturan dan prinsip-prinsip untuk mengujikan kekesanan ubat dan rawatan baru, yang masih membentukkan asas farmakologi klinik[32] dan percubaan klinik moden:[27]
  1. "Ubat harus bebas dari mana-mana kualiti extraneous accidental."
  2. "Ia seharusnya digunakan pada suatu penyakit yang mudah, bukan yang dahsyat."
  3. "Ubat seharusnya diujikan dengan dua jenis yang bertentangan, kerana kadang-kadang suatu perubatan merawat suatu penyakit oleh kualiti pentingnya dan satu lagi dengan accidental ones."
  4. "Kualiti ubat seharusnya berkorespon dengan kekuatan penyakit. Contohnya, ada sesetengah ubat yang kurang daripada kesejukan sesetengah penyakit, supaya mereka tidak akan mempunyai kesan pada mereka."
  5. "Waktu tindakan harus diperhatikan, supaya inti dan secara kebetulan tidak dikelirukan."
  6. "Kesan ubat harus dilihat bermuncul secara konstan atau pada banyak kejadian, jika ini tidak berlaku, ia adalah suatu kesan secara kebetulan."
  7. "Eksperimentasi seharusnya dilakukan dengan badan manusia, untuk menguji suatu ubat pada seekor singa atau seekor kuda tidak akan membuktikan apa-apa pada kesannya pada lelaki."
Salah satu doktor-doktor digelar telah melakukan pembedahan dan autopsi postmortem pada eksperimen perubatan adalah Ibn Zuhr (Avenzoar),[43] yang memperkenalkan kaedah eksperimen pada perbedahan,[44] untuk yang mana dia dianggap bapa pembedahan bereksperimen.[45] Aada sebilangan pengamal awal lain pada pembedahan manusia dan autopsi pada waktu itu,[46] termasuk Ibn Tufail,[47] doktor-doktor kepada Saladin al-Shayzari[46] dan Ibn Jumay, Abd-el-latif,[48] dan Ibn al-Nafis.[49]

Kaedah bereksperimen telah diperkenalkan pada botani, materia medica dan sains pertanian pada abad ke-13 oleh ahli botani Andalus-Arab Abu al-Abbas al-Nabati, guru pada Ibn al-Baitar. Al-Nabati memperkenalkan teknik-teknik empirical pada pengujiannya, penjelasan dan pengenalan beberapa materia medica, dan dia mengasingkan laporan tidak diverify dari yang disokong oleh pengujian dan pemerhatian sebenarnya.[38]


sumber dari: ms.wikipedia.org

Sunday, 27 October 2013

ahli botani dan farmasi




Image


Ibnu Al-Baitar adalah salah satu ilmuwan Islam terbaik yang pernah ada. Beliau dikenal sebagai ahli botani dan farmasi (obat-obatan). Ibnu Al-Baitar lahir pada akhir abad ke-12 di Malaga, Spanyol dan wafat di Damaskus pada tahun 1248 M. Lahir dengan nama Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, beliau mendapatkan ilmu tentang botani dari guru beliau Abu al-Abbas al-Nabati, seorang ahli botani yang terkenal pada saat itu.
Kontribusi Ibnu al-Baitar untuk dunia Kedokteran :
  1. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan berbagai jenis tanaman termasuk di dalamnya tanaman obat.
  2. Kitab Al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada yang beliau tulis menjadi kitab yang terpopuler saat itu. Berisikan 1400 item tanaman yang sebagian besarnya adalah tanaman yang digunakan pada metode pengobatan Arab.
  3. Kitab Al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufrada, merupakan ensiklopedia tanaman obat khususnya di wilayah Arab Saudi.
  4. Kitab lainnya : Al-Mughni fil Adwiyyatil Mufradah wal Ughdziyyah (Ensiklopedi Pengobatan Mandiri dan Makanan) dan Al-Jami’ fil Adwiyyatil Mufradah wal Ughdziyyah (Kumpulan Pengobatan Mandiri dan Makanan).  


sumber dari: blognyadokterarif.wordpress.com